Kerugian Wisata Bali Capai 9T Setelah Siaga 36 Hari

Erupsi Gunung Agung telah berdampak sangat buruk dan banyak terhadap sektor wisata dan ekonomi di Bali.Banyak penduduk Bali yang juga mengungsi ke Lombok. Erupsi ini juga tidak menunjukkan kapan akan berakhir. Tapi, menurut Mentri Pariwisata, Arief Yahya, status siaga selama 36 hari di Bali ternyata telah merugikan sektor wisata di Bali hingga mencapai 9T. Ini juga tidak lepas dari dihentikannya penerbangan ke dan dari Bali.

Bali Rugi 9 T

Pemerintah kemungkinan akan kehilangan target 15 juta kunjungan wisman tahun ini akibat letusan Gunung Agung di Bali yang menjadi tujuan wisata utama negara Indonesia. Hal terbaik yang bisa diharapkan dari target akan berkisar antara 93 sampai 95 persen, sekitar 14 juta, kata Menteri Pariwisata Arief Yahya di Istana Kepresidenan. Jika Bali harus ditutup karena letusan, pariwisata akan kehilangan US $ 360.000 per hari. “Sekarang sudah 36 hari sejak status siaga dan kami telah kehilangan Rp 9 triliun [$ 630 juta],” kata Arief.

Dia menjelaskan bahwa Bali menerima sekitar 15.000 turis asing per hari, dan di puncak musim – dari bulan Agustus sampai Desember – jumlahnya bisa meningkat menjadi 20.000.”Bencana alam ini sangat mempengaruhi pariwisata, periode ini seharusnya menjadi musim panen,” katanya, seraya menambahkan bahwa setiap wisatawan asing rata-rata menghabiskan $ 1.200 per orang dengan rata-rata tinggal selama empat hari.

“Empat puluh persen turis pergi ke Bali.Bali adalah tujuan wisata utama kami, “kata Arief.Arief juga menyebutkan bahwa pada hari kedua penutupan bandara, hotel memberikan tarif khusus untuk wisatawan, seperti diskon 50 persen.”Ini adalah investasi jangka panjang, membangun loyalitas pelanggan sehingga mereka bisa mencintai Bali lebih banyak lagi,” katanya.Selain itu, Dewan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali telah menyediakan akomodasi gratis bagi wisatawan yang terdampar di Bandara Ngurah Rai.

Penerbangan Kembali Buka, Ada Harapan?

Aktivitas vulkanik Gunung Agung tidak hanya memberikan dampak kerugian Bali saja tetapi beberapa daerah di sekitarnya juga.Pembatalan penerbangan juga sebelumnya diberlakukan di Bandara Komodo di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.Namun berita baiknya, setelah ditutup selama tiga hari, Bandara Internasional Ngurah Rai akhirnya kembali dibuka dan melakukan kegiatan pelayanan pada hari Rabu sore untuk melayani penerbangan ke dan dari Bali meski ada aktivitas vulkanik Gunung Agung yang sedang berlangsung.

Penerbangan dilaporkan dilanjutkan pada pukul 3 siang setelah ditutup pada hari Senin pagi menyusul letusan Gunung.Keputusan tersebut diambil setelah pertemuan di ruang Darurat Operasional Bandara Ngurah Rai (EOC), yang memiliki institusi dan pemangku kepentingan terkait.Mereka adalah otoritas bandara, operator bandara milik negara PT Angkasa Pura I (AP I), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Bali (BMKG) dan Kementerian Pariwisata.

Mereka memutuskan untuk membuka kembali bandara setelah Pemberitahuan Observatorium Volcano untuk Penerbangan (VONA) diturunkan dari merah-hijau ke oranye-hijau, yang mengindikasikan bahwa wilayah udara Bali aman untuk penerbangan. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan ia berharap bahwa Bali, sebagai tujuan wisata bandar poker paling populer di Indonesia, akan segera kembali normal karena puncak musim liburan akhir tahun semakin dekat.

Tentunya, ada harapan untuk kembali mendapatkan keuntungan sektor wisata di Bali dan meminimalisir kerugian yang ada. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada teknologi yang bisa meramalkan kapan letusan akan berakhir. Artinya, erupsi Gunung Agung tidak bisa diprediksi akan berakhir sampai kapan serta status aman juga tidak diketahui akan diumumkan kapan.